PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA PEMBELAJARAN FISIKA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA SMA NEGERI 5 KOTA JAMBI
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Jambi
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Menyelesaikan
Program Sarjana Pendidikan Fisika
Oleh
Alfitrah Pratiwi Alvina
NIM A1C315024
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
MARET, 2018
A. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Pembelajaran Fisika Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Siswa SMA Negeri 5 Kota Jambi
B. Pendahuluan
B.1 Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran tidak luput dari permasalahan-permasalahan yang ditemui ketika melaksanakan proses tersebut. Permasalahan-permasalahan sering ditemui khususnya ketika siswa mengalami kesulitan dalam belajar. Kesulitan belajar merupakan salah satu gejala dalam proses belajar yang ditandai dengan berbagai tingkah laku yang berlatar belakang dalam diri maupun di luar diri siswa. Biasanya faktor yang mempengaruhi siswa mengalami kesulitan belajar adalah faktor eksternal dan juga faktor internal.
Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh siswa dapat dijadikan rujukan oleh guru dalam meningkatkan kualitas hasil belajar siswa. Guru bertanggung jawab terhadap proses belajar mengajar, maka sudah seharusnya memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh siswanya. Dari hasil penelitian Hari (2008) yang menemukan bahwa salah satu mata pelajaran di sekolah yang seringkali dianggap sulit oleh siswa adalah mata pelajaran fisika.
Dalam pembelajaran fisika, kemampuan pemahaman konsep merupakan syarat mutlak dalam mencapai keberhasilan belajar fisika. Hanya dengan penguasaan konsep fisika seluruh permasalahan fisika dapat dipecahkan, baik permasalahan fisika yang ada dalam kehidupan sehari–hari maupun permasalahan fisika dalam bentuk soal fisika di sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa pelajaran fisika bukanlah pelajaran hafalan tetapi lebih menuntut pemahaman konsep bahkan aplikasi konsep.
Data yang diperoleh dari guru fisika SMAN 5 Kota Jambi kelas X MIA 3 tahun ajaran 2017/2018 pada mata pelajaran fisika memiliki nilai rata-rata 65-70, sedangkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 75. Berdasarkan data nilai tersebut terlihat bahwa nilai rata-rata kelas X MIA 3 lebih rendah dibandingkan dengan kelas lainnya, menurut pendapat guru tersebut bahwa kelas X MIA 3 merupakan kelas yang motivasi belajar siswanya masih rendah.
Pembelajaran fisika di kelas didominasi oleh penggunaan metode ceramah oleh guru. Menurut para guru, penggunaan metode dalam pembelajaran di kelas di sesuaikan dengan waktu, situasi dan kondisi kelas, jenis materi yang diajarkan. Pemilihan metode ceramah dikarenakan karakter siswa dan karakter materi. Sebenarnya, siswa-siswa mengharapkan pembelajaran fisika yang kontekstual dimana yang mereka anggap sebagai cara untuk lebih memudahkan mereka dalam memahami fisika. Salah satunya adalah dengan melaksanakan pembelajaran fisika kontekstual berbantuan jigsaw puzzle competition, dimana menurut Suparno dalam Yulianti (2010), pembelajaran fisika dengan permainan adalah pembelajaran fisika dengan mengajak siswa belajar fisika melalui permainan yang mereka sukai dan biasa mereka geluti. Jigsaw puzzle adalah jenis permainan teka-teki menyusun potongan-potongan gambar (Ramadhan dalam Yulianti, 2010). Manfaat bermain puzzle menurut Crist dalam Yulianti (2010) antara lain: mengasah otak, melatih koordinasi mata dan tangan, melatih nalar, melatih kesabaran, dan pengetahuan.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Pembelajaran Fisika Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Siswa SMA Negeri 5 Kota Jambi”
B.2 Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka ditetapkan permasalahan dalam penelitian ini yaitu :
a. Bagaimana penggunaan model pembelajaran tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada pembelajaran fisika materi kalor di SMA Negeri 5 Kota Jambi ?
B.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka ditetapkan tujuan penelitian ini yaitu:
a. Untuk mengetahui peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran tipe jigsaw pada pembelajaran fisika materi kalor di SMA Negeri 5 Kota Jambi.
B.4 Manfaat Penelitian
Penerapan Model Jigsaw diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan dalam memahami mata pelajaran fisika di kelas X MIA 3 SMA Negeri 5 Kota Jambi. Serta dapat membantu siswa untuk berpikir secara kreatif dan aktif sehingga dapat menciptakan motivasi dan hasil belajar siswa yang baik.
C. Kajian Teoritik
C.1 Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses manusia untuk mengalami perubahan tingkah laku dan mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Kemampuan manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan (Slameto, 2003: 56).
Belajar merupakan gejala yang wajar. Setiap manusia akan belajar. Namun kondisi-kondisi belajar dapat diatur dan diubah untuk mengembangkan bentuk kelakuan tertentu pada seseorang, atau mempertinggi kemampuan atau mengubah kelakuannya. Belajar bukanlah sekedar proses sekedar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan tingkah laku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari (Sanjaya, 2009:112).
C.2 Pengertian Pembelajaran
Menurut Hamalik (2010:53-54) pengertian pembelajaran adalah “Suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran”. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari ruangan kelas,perlengkapan audio visual, juga komputer. Prosedur meliputi jadwal dan metode penyampain informasi, praktik, belajar, ujian dan sebagainya.
Ada tiga ciri-ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran antara lain:
1. Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur, yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran, dalam suatu rencana khusus.
2. Kesaling tergantungan, anatara unsur-unsur sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial, dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran.
3. Tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Ciri ini menjadi dasar perbedaan antara sistem yang dibuat oleh manusia dan sistem yang dialami (natural). Tujuan utama sistem pembelajaran agar siswa belajar.
C.3 Model Pembelajaran
C.3.1 Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran kelompok dengan jumlah peserta didik 2-5 orang dengan gagasan untuk saling memotivasi antara anggotanya untuk saling membantu agar tercapainya suatu tujuan pembelajaran yang maksimal. Berikut ini merupakan beberapa pengertian pembelajaran kooperatif (cooperative learning) :
1. Isjoni (2011:15) “Cooperative Learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau sebagai satu tim. Pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning) merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa sebagai anggota kelompok harus saling bekerjasama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam kooperatif learning, belajar dikatakan belum selesai, jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran”.
2. Amri (2010) “Model pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar konstruktivis. Hal ini terlihat pada salah satu teori Vigotsky yaitu penekanan pada hakikat sosio kultural dari pembelajaran vigotsky yakni bahwa fase mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul pada percakapan atau kerjasama antara individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap dalam individu tersebut. Implikasi dari teori Vigotsky dikehendakinya susunan kelas berbentuk kooperatif”.
Langkah-langkah dalam melaksanakan model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
· Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Pada langkah pertama ini, pengajar menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa belajar
· Menyajikan informasi
Pada langkah kedua ini, pengajar menyajikan informasi pada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
· Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Pada langkah ketiga, pengajar menjelaskan pada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
· Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Pada langkah keempat, pengajar membimbing kelompok belajar pada saat siswa mengerjakan tugas
· Evaluasi
Pada langkah ini, pengajar mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
· Memberikan Penghargaan
Pada langkah terakhir, pengajar mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
C.3.2 Model Pembelajaran Tipe Jigsaw
Tipe Jigsaw adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif di mana pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Pada pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini setiap siswa menjadi anggota dari 2 kelompok, yaitu anggota kelompok asal dan anggota kelompok ahli. Anggota kelompok asal terdiri dari 3-5 siswa yang setiap anggotanya diberi nomor kepala 1-5. Nomor kepala yang sama pada kelompok asal berkumpul pada suatu kelompok yang disebut kelompok ahli.
Dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terdapat 3 karakteristik yaitu:
a. kelompok kecil,
b. belajar bersama, dan
c. pengalaman belajar.
Esensi kooperatif learning adalah tanggung jawab individu sekaligus tanggung jawab kelompok, sehingga dalam diri siswa terbentuk sikap ketergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok optimal. Keadaan ini mendukung siswa dalam kelompoknya belajar bekerja sama dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh sampai suksesnya tugas-tugas dalam kelompok. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Johnson (1991 : 27) yang menyatakan bahwa “Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw ialah kegiatan belajar secara kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama sampai kepada pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok”.
C.3.3 Langkah - Langkah Model Pembelajaran Tipe Jigsaw
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini berbeda dengan kelompok kooperatif lainnya, karena setiap siswa bekerja sama pada dua kelompok secara bergantian, dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:
a. Siswa dibagi dalam kelompok kecil yang disebut kelompok inti, beranggotakan 4 orang. Setiap siswa diberi nomor kepala misalnya A, B, C, D.
b. Membagi wacana / tugas sesuai dengan materi yang diajarkan. Masing-masing siswa dalam kelompok asal mendapat wacana / tugas yang berbeda, nomor kepala yang sama mendapat tugas yang sama pada masing-masing kelompok.
c. Kumpulkan masing-masing siswa yang memiliki wacana/ tugas yang sama dalam satu kelompok sehingga jumlah kelompok ahli sama dengan jumlah wacana atau tugas yang telah dipersiapkan oleh guru.
d. Dalam kelompok ahli ini tugaskan agar siswa belajar bersama untuk menjadi ahli sesuai dengan wacana / tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
e. Tugaskan bagi semua anggota kelompok ahli untuk memahami dan dapat menyampaikan informasi tentang hasil dari wacana / tugas yang telah dipahami kepada kelompok kooperatif (kelompok inti). Poin a dan b dilakukan dalam waktu 30 menit.
f. Apabila tugas telah selesai dikerjakan dalam kelompok ahli masing-masing siswa kembali ke kelompok kooperatif asal.
g. Beri kesempatan secara bergiliran masing-masing siswa untuk menyampaikan hasil dari tugas di kelompok asli. Poin c dan d dilakukan dalam waktu 20 menit.
h. Bila kelompok sudah menyelesaikan tugasnya secara keseluruhan, masing-masing kelompok menyampaikan hasilnya dan guru memberikan klarifilkasi. (10 menit).
C.4 Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah proses yang memberi semangat belajar, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasiadalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama. Motivasi untuk belajar sangat berperan penting bagi siswa dan guru. Motivasi juga terkait erat dengan kebutuhan, semakin besar kebutuhan seseorang akan sesuatu yang ingin ia capai, maka akan semakin kuat motivasi untuk mencapainya. Kebutuhan yang kuat terhadap sesuatu akan mendorong seseorang untuk mencapainya dengan sekuat tenaga. Hanya dengan motivasilah anak didik dapat tergerak hatinya untuk belajar bersama teman-temannya yang lain (Aunurrahman, 2013: 20).
Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan yang ada dalam diri individu dan menyebabkan individu tersebut bertindak namun tidak dapat dilihat secara langsung hanya saja bisa diinterpretasikan dalam tingkah laku. Maka dapat dikatakan bahwa motivasi adalah kondisi alamiah seseorang baik secara fisiologis dan psikologis seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas yang ditandai oleh timbulnya perasaan dan rekasi untuk mencapai tujuan (kebutuhan) yang diinterpretasikan dalam tingkah laku. Motivasi juga berpengaruh dalam proses belajar mengajar, tidak semua siswa mengalami proses belajar dengan motivasi yang sama, ada siswa yang perlu dorongan lebih untuk bisa diajak mengalami proses belajar, namun ada juga siswa yang dengan kesadaran sendiri melakukannya, biasannya seperti ini akan terlihat lebih menonjol saat pembelajaran. Motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah dan penggeraktingkah laku. Motivasi mempunyai nilai dalam menentukan keberhasilan, demokratisasi pendidikan, membina kreativitas dan imajinasi guru, dan menentukan efektivitas pembelajaran (Hamzah, 2006: 25-26).
C.5 Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan dalam penelitian ini, antara lain :
Hasil penelitian Khoirul Musthofa (201) yang berjudul “Pembelajaran Fisika Dengan Cooperative Learning Tipe Jigsaw Untuk Mengoptimalkan Aktivitas dan Kemampuan Kognitif Siswa Kelas X-6 SMA MTA Surakarta” yang menyatakan bahwa dengan menerapkan tindakan yang mengacu pada pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, selalu terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran fisika. Melalui kegiatan siswa berupa diskusi dalam kelompok asal maupun kelompok ahli, memberi kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan gagasan/ide/pendapatnya, sehingga dapat merangsang siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran.
C.6 Kerangka Berfikir
Hakekat pembelajaran fisika adalah belajar konsep. Untuk belajar fisika harus dimiliki metode atau cara khusus dalam belajar dan mengajarkannya. Sebagian besar siswa SMA mengalamai kesulitan dalam belajar fisika, kesulitan tersebut disebabkan karena kurang tertariknya siswa untuk belajar fisika. Terbukti dalam pembelajaran fisika di kelas X MIA 3 SMAN 5 Kota Jambi masih banyak ditemukan masalah-masalah dalam pembelajaran, antara lain motivasi belajar siswa yang rendah sehingga menyebabkan hasil belajar siswa juga rendah.
Penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat dalam proses pembelajaran juga dapat menimbulkan kebosanan atau kejenuhan, kurang memahami konsep dan monoton sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar. Kejenuhan ini membuat siswa lebih banyak pasif dan kurang terlibat dalam proses pembelajaran. Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran tipe jigsaw dengan menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran fisika materi kalor. Model tipe jigsaw ini merupakan model yang mengedepankan aktivitas dan kreatifitas siswa. Materi kalor dirasa cocok dengan model ini karena dalam materi tersebut ditemui banyak konsep dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dengan model ini konsep yang diajarkan dapat lebih melekat dalam ingatan siswa karena mendapatkannya sendiri.
Dengan diterapkannya model pembelajaran tipe jigsaw dengan menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran fisika, diharapkan dapat membuat siswa lebih aktif karena membuat siswa mencari jawaban dengan konsep yang kreatif dengan cara membuat kelompok dan berdiskusi dengan kelompok yang telah ditentukan membentuk suatu kesimpulan, sehingga model pembelajaran tipe jigsaw membuat siswa tidak mengalami kesulitan selama mengikuti pembelajaran karena siswa dapat belajar sambil bermain. Maka diharapkan dengan model pembelajaran tipe jigsaw ini dapat membuat motivasi siswa kelas X MIA 3 jauh lebih meningkat sehingga hasil belajar juga ikut meningkat.
D. Metode Penelitian
D.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat dan waktu penelitian tindakan kelas dilaksanakan di SMAN 5 Kota Jambi untuk mata pelajaran fisika materi kalor yang dilaksanakan pada semester genap Tahun Ajaran 2018/2019, sesuai dengan kalender akademik SMAN 5 Kota Jambi.
D.2 Subjek Penelitian
Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa SMAN 5 Kota Jambi kelas X MIA 3 yang terdiri dari 35 siswa dengan jumlah laki-laki 15 siswa dan perempuan 20 siswa.
D.3 Data dan Sumber Data
D.3.1 Data
Data ialah bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta.
Jenis data yang diambil dalam penelitian ini adalah :
a. Data kualitatif, yaitu data tentang hasil wawancara dengan guru mata pelajaran, data tentang kegiatan pembelajaran, dan dokumentasi berupa foto saat pembelajaran.
b. Data kuantitatif, yaitu data tentang hasil angket motivasi belajar siswa, dan hasil tes soal pilihan ganda siswa.
D.3.2 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MIA 3 SMAN 5 Kota Jambi Tahun Ajaran 2018/2019.
D.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan bertujuan untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :
a. Kuantitatif, yaitu dengan menggunakan angket motivasi belajar siswa dengan butir pernyataan sebanyak 30 buah dan tes berupa soal pilihan ganda kepada siswa tiap akhir siklus.
b. Kualitatif, yaitu dengan menggunakan pedoman wawancara yang ditujukan kepada guru, dokumentasi berupa catatan dan foto, dan observasi terhadap fenomena, peristiwa, atau kejadian di lokasi penelitian.
D.5 Teknik Analisa Data
D.5.1 Analisis Data Kuantitatif
a. Soal
Soal yang digunakan dalam penelitian adalah soal pilihan ganda yang terdiri dari 15 soal untuk masing-masing siklus. Persamaan yang digunakan sebagai berikut :
P = X/Jumlah Point x 100 %
Keterangan:
P = Persentase
X= Jumlah soal
b. Angket Motivasi Belajar Siswa
Analisis hasil pengisian angket motivasi dilakukan dengan memberi skor pada masing-masing butir pada lembar angket.
Tabel.3 Penskoran Angket Motivasi siswa
SkorJawaban
| |||||
SS
|
S
|
KS
|
TS
|
STS
| |
PernyataanPositif (+)
|
5
|
4
|
3
|
2
|
1
|
PernyataanNegatif (-)
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
Keterangan :
SS = Sangat Setuju
S = Setuju
KS = Kurang Setuju
TS = Tidak Setuju
STS = Sangat Tidak Setuju
Selanjutnya cari rata-rata angket motivasi dengan cara statistik kuantitatif deskriptif :
a. Menghitung banyaknya siswa yang melakukan aktivitas sesuai indikator yang diamati.
b. Mencari besar persentase skor aktivitas belajar-belajar siswa setiap indikator yang diamati pada setiap siklus dengan cara :
Persentase = (Jumlah skor yang diperoleh)/ Banyaknya siswa x 100
c. Menghitung rata-rata persentase keaktifan belajar siswa pada setiap indikator yang diamati pada setiap siklus.
d. Mengkategorikan rata-rata keaktifan belajar siswa pada setiap indikator yang diamati pada setiap siklus, sesuai dengan kategori yang telah ditentukan untuk membuat kesimpulan mengenai aktivitas belajar siswa.
Menurut Riduwan (Riduwan, 2007), kriteria persentase untuk skor hasil angket motivasi siswa terhadap pelajaran fisika, sebagai berikut :
Persentase yang diperoleh
|
Keterangan
|
85% ≤ P ≤ 100%
|
Sangat Tinggi
|
70% ≤ P ≤ 85%
|
Tinggi
|
55% ≤ P ≤ 70%
|
Sedang
|
40% ≤ P ≤ 55%
|
Rendah
|
0% ≤ P ≤ 40%
|
Sangat Rendah
|
D.5.2 Analisis Data Kualitatif
Adapun teknik analisa data untuk data kualitatif menggunakan teknik coding. Coding merupakan proses mengorganisasikan data dengan mengumpulkan potongan (bagian teks atau bagian gambar) dan menuliskan kategori dalam batasan-batasan (Creswell, 2015). Langkah ini melibatkan pengambilan data tulisan atau gambar yang dikumpulkan selama proses pengumpulan, mensegmentasi kalimat atau gambar kedalam kategori, kemudian melabeli kategori dengan istilah khusus.
D.6 Indikator Pencapaian
Indikator pencapaian dalam penelitian tindakan kelas ini ditunjukkan dengan perubahan ke arah perbaikan, terkait dengan motivasi belajar dan hasil belajar di kelas X MIA 3 Kota Jambi.
a. Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari hasil tes soal melalui model jigsaw dengan menggunakan kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh sekolah yaitu dengan nilai ketuntasan ≥ 75 sebanyak 70 % dari total keseluruhan siswa
b. Peningkatan motivasi siswa dilihat dari aktivitas belajar siswa selama kegiatan belajar mengajar ≤ 70 %.
D.7 Prosedur Penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Amri, S dan Iif K, A. 2010. Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Aunurrahman. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
Hamalik, Oemar. 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Hamzah, Uno B. 2006. Teori Motivasi & Pengukurannya. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Hari B, S. 2008. Mengapa Fisika Sulit. http://suarapembaca.detik.com/read/ 2008/08/20/082305/991245/471/mengapa-fisika-sulit.Diakses tanggal 2 Desember 2017
Isjoni. 2011. Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: ALFABETA.
Johnson DW & Johnson R, T. 1991.Learning Together and Alone.Allin and Bacon : Massa Chussetts.
Musthofa, Khoirul. 2013. Pembelajaran Fisika Dengan Cooperative Learning Tipe Jigsaw Untuk Mengoptimalkan Aktivitas dan Kemampuan Kognitif Siswa Kelas X-6 SMA MTA Surakarta. Jurnal Pendidikan Fisika (2013), Vol.1 No.1 halaman 55
Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.Jakarta : Prenada Media Grup.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta
Yulianti dkk. 2010. Penerapan Jigsaw Puzzle Competitipn Dalam Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Fisika Siswa SMP. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 6 (2010), 84-89.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar